HUBUNGAN ASUPAN ENERGI DAN ASUPAN PROTEIN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA (24-59 BULAN) DI KELURAHAN KARANGANYAR KECAMATAN KAWALU KOTA TASIKMALAYA

Iseu Siti Aisyah, Andi Eka Yunianto

Abstract


Stunting yaitu balita yang memiliki kondisi tinggi badan yang kurang dibandingkan dengan umurnya. Ada beberapa faktor-faktor yang bisa mengakibatkan terjadinya
stunting pada balita, salahsatunya asupan karbohidrat dan protein. untuk menganalisis hubungan asupan karbohidrat dan asupan protein dengan kejadian
stunting pada balita (24-59 bulan). Penelitian ini menggunakan metode case
control yang dilakukan di Kelurahan Karanganyar Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 balita untuk setiap kelompok kasus ataupun kelompok kontrol, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan asupan energi (OR=6,111; 95% CI: 2,201 – 16,965)), asupan protein (OR=5,160; 95% CI: 2,016 – 13,207) berhubungan dengan kejadian stunting pada balita (24-59) di Kelurahan Karanganyar Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya.


Keywords


stunting, balita, asupan karbohidrat, asupan protein

Full Text:

PDF

References


Adani, F. Y. and Nindya, T. S. (2017) ‘Perbedaan Asupan Energi , Protein , Zink , dan Perkembangan pada Balita Stunting dan non Stunting The Differences of Energy , Protein , Zinc Intake and Development to Stunting and nonStunting Toddler’, Amerta Nutrition, pp. 46–51. doi: 10.20473/amnt.v1.i2.2017.46-51.

Amin NA dan Julia M. (2014). Faktor Sosiodemografi dan Tinggi Badan Orang Tua Serta Hubungannya dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6-23 bulan. Jurnal Kesehatan Indonesia, Vol.2, No.3.

Anisa, P. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-60 Bulan di Kelurahan Kalibara Depok Tahun 2012. (Skripsi). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat UI; 2012.

Ayuningtyas, A., Simbolon, D. and Rizal, A. (2018) ‘Asupan Zat Gizi Makro dan Mikro terhadap Kejadian Stunting pada Balita’, Jurnal Kesehatan, 9(3), p.445. doi: 10.26630/jk.v9i3.960.

Bishwakarma, R. (2011). Spatial Inequality in Children Nutrition in Nepal. Implications of Regional Context and Individual/Household Compotition (Disertasi, University of Mayland, College Park, United States). Diakses dari http://hdl.handle.net/1903/11683.

Cahyati, W. H. and Yuniastuti, A. (2019) ‘Disparity of Risk Factors Stunting on Toddlers in the Coast and the Mountain Areas of Sinjai, South Sulawesi’, Public Health Perspective Journal, 4(3), pp. 196–205.

Fikadu, T, Assegid, S & Dube, L. (2014). Factor Associated With Stunting Among Children Age 24 to 59 months in Meskan District, Gurage Zone, South Ethiopia: A Case-Control Study. BMC Public Health, 14(800). Diakses dari http://www.biomedicenral.com/1471-2458/14/800.

Fitri. Berat Lahir Sebagai Faktor Dominan Terjadinya Stunting Pada Balita (12-59 Bulan) di Sumatera (Analisis Data Riskesdas 2010). [Internet]. Depok: Universitas Indonesia. (Diakses pada 23 Juli 2019).

Infodatin Kemenkes RI mengenai Situasi Balita Stunting tahun 2016. [Online].

Tersedia:http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/situasibalitapendek-2016.pdf.

Indriyan, E., DewI, Y. L. R. and Salimo, H. (2018) ‘Biopsychosocial Determinants of Stunting in Children Under Five: A Path Analysis Evidence from the Border Area West Kalimantan’, Journal of Maternal and Child Health, 03(02), pp.

–155. doi: 10.26911/thejmch.2018.03.02.07.

Izzati, IS. Hubungan Jenis Kelamin, Usia dan Riwayat Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting Pada Anak di RSUD Tugurejo Semarang. [Skripsi]. Semarang: Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang; 2016.

Jati, D. K. and Nindya, T. S. (2017) ‘Asupan Energi dan Protein Berhubungan dengan Gizi Kurang pada Anak Usia 6-24 Bulan’, Amerta Nutrition, 1(2). doi: 10.20473/amnt.v1i2.2017.124-132.

Sari, E. M. et al. (2016) ‘Asupan protein, kalsium dan fosfor pada anak stunting dan tidak stunting usia 24-59 bulan’, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 12(4), p. 152. doi: 10.22146/ijcn.23111.

Sidiartha, I. G. L. (2015) ‘Association Between Energy and Macronutrients Intake’, Jurnal Ilmiah Kedokteran, 45(1), pp. 3–8.

Tangkudung, G. (2014) ‘Hubungan Antara Asupan Energi dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 13-36 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Tuminting Kota Manado’, Kesmas, 00, p. 5. Available at: http://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2015/02/JURNAL-EDYS-FIX-1-1.pdf.

Tessema, M. et al. (2018) ‘Associations among high-quality protein and energy intake, serum transthyretin, serum amino acids and linear growth of children in Ethiopia’, Nutrients, 10(11), pp. 1–17. doi: 10.3390/nu10111776.

Theron M, Amissa A, Albertse E, Kleynhans I, dan MacIntyre U. Inadequate Dietary Intake is Not The Cause of Stunting Amongst Young Children Living in an Informal Settlement in Gauteng and Rural Limpopo Province in South Africa: The Nutrigro Study. NCBI. April 2006: zvol (4): 79-89. (Diakses tanggal 23 Juli 2019).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.