Menggugat Negara Kesatuan: Menggali Wacana Kebangsaan Soetisna Sendjaja tentang Negara Serikat

Irfal Mujaffar

Abstract


Ide federalisme yang telah dikubur oleh pemerintah RI kembali menyeruak pada pertengahan tahun 1950-an. Tidak meratanya distribusi kekuasaan dan ekonomi disinyalir manjadi faktor kuat yang membuat sejumlah kalangan menginginkan suatu bentuk susunan negara serikat ketimbang negara tunggal (kesatuan). Di Jawa Barat, ide tersebut disuarakan juga oleh sejumlah aktivis Sunda, salah satunya oleh Soetisna Sendjaja. Artikel ini membahas pemikiran Soetisna Sendjaja tentang negara serikat yang ditempatkan dalam konteks dinamika sosial-politik pasca-kemerdekaan. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ide federalisme sebetulnya merupakan  wacana yang sudah lama disuarakan Soetisna Sendjaja jauh sebelum kemerdekaan. Wacana tersebut kembali menemukan momentumnya selama dasawarsa kedua 1950-an. Spiritnya pun masih sama, hanya saja berada dalam konteks politik yang berbeda. Pada masa pergerakan, Soetisna Sendjaja menempatkan federalisme sebagai jalan yang ditempuh untuk membangun persatuan dan kemajuan bangsa demi cita-cita kemerdekaan. Maka di tahun 1950-an, wacana federalisme berubah menjadi suatu tuntutan bentuk susunan negara Indonesia yang telah merdeka, sekaligus sebagai solusi yang ditawarkan untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di tanah air.


Keywords


Federalisme; Unitarisme; Negara Serikat; Front Pemuda Sunda

Full Text:

PDF

References


Amien, S. (2013). Perjoangan Paguyuban Pasundan 1914-1942. Bandung: Pustaka Jaya

Berita “Unie djeung Federatie” dalam Sipatahoenan. Bandung: 6 April 1931

Caldwell & Utrecht. (2011). Sejarah alternatif Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Djaman Baroe.

Ekadjati, E. (1995). Sunda, Nusantara, dan Indonesia Suatu Tinjauan Sejarah. (makalah). Disampaikan dalam orasi ilmiah Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, 25 September 1995.

Lubis, N. (2003). Sejarah Tatar Sunda. Bandung: Satya Historika

Mujaffar, I. (2017). Pemikiran Politik Soetisna Sendjaja Tahun 1918-1942. (Skripsi). Departemen Pendidikan Sejarah, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Pringgodigdo, AK. (1994). Sejarah pergerakan rakyat Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. (1959a). Pandangan Umum Soetisna Sendjaja dalam Sidang Konstituante pada 12 Mei 1959. Sekretariat Negara. Jakarta.

_________. (1959a). Pandangan Umum Soetisna Sendjaja dalam Sidang Konstituante pada 25 Mei 1959. Sekretariat Negara. Jakarta

Ricklefs, M.C. (2010). Sejarah Indonesia modern 1200-2008. Jakarta: Serambi

Rosidi, A. (1988). Hurip Waras: Dua Panineungan. Bandung: Pustaka Karsa Sunda.

Rosidi, A et al. (2000). Ensiklopedi Sunda: alam, manusia, dan budaya. Bandung: Pustaka Jaya.

Soetsen. (1918). “Panoehoen” dalam surat kabar Padjadjaran. Bandung: 14 September 1918.

_______.1925). “Sparatisme?” dalam surat kabar Sipatahoenan. Tasikmalaya: 14 Juli 1925.

_______. (1956). “Pidato Pak Soetsen; Dina Konpersensi Organisasi Kasundaan djeung sepuh2 Sunda tgl. 2 Desember 1956, di Bandung” dalam Majalah Kalawarta Kudjang. Bandung: Desember 1956.

Suharto. (2002). Pagoejoeban Pasoendan 1927-1942: profil pergerakan etnonasionalis. Bandung: Satya Historika.

Sundhaussen, U. (1988). Politik Militer Indonesia 194501967: Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3S

Yahya, I. (2015). “Mapag kongres Paguyuban Pasundan 2015: akar Paguyuban Pasundan” dalam surat kabar Kabar Priangan. Tasikmalaya: 24 Agustus 2015




DOI: https://doi.org/10.37058/bjpsis.v8i1.17948

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


BIHARI is Indexed by

Indeks Google ScholarGaruda